Donor ASI Perah dan Saudara Sepersusuan

ASI adalah makanan terbaik bayi. Keunggulan yang dimilikinya tak tertandingi oleh susu formula termahal di dunia sekalipun.  Keyakinan itulah yang mendorong sebagian ibu lebih memilih ASIP (ASI Perah) Donor dibandingkan Susu Formula. Seperti yang kualami saat ini, ASIP milikku diminati oleh beberapa teman.

Menyusui bayi lain secara langsung sebanyak lima kali atau lebih dan usia bayi tersebut dua tahun ke bawah atau masih dalam masa menyusui menyebabkan hubungan si bayi dan anak-anak kita menjadi Saudara Sepersusuan sehingga jatuh hukum tahrim (haram kawin). Bahasan detail tentang hal ini bisa dibaca di sini dan juga di sini.

Nah, bagaimana jika menyusuinya secara tidak langsung? Apakah Donor ASIP akan menyebabkan hubungan Saudara Sepersusuan ? Ada 2 pendapat mengenai hal ini, yaitu :

1.  Tidak menyebabkan hubungan Saudara Sepersusuan

Dr. Yusuf Qardhawi dalam Fatwa-Fatwa Kotemporer, sependapat dengan Ibnu Hazm, dimana dalam fatwanya Ibnu Hazm mengatakan bahwa bayi yang diberi minum susu seorang wanita dengan menggunakan botol atau dituangkan ke dalam mulutnya lantas ditelannya, atau dimakan bersama roti atau dicampur dengan makanan lain, dituangkan ke dalam mulut, hidung, atau telinganya, atau dengan suntikan, maka yang demikian itu sama sekali tidak mengakibatkan kemahraman.

2.  Menyebabkan hubungan Saudara Sepersusuan

Seperti yang telah dijelaskan oleh Ust. Ahmad Sarwat ketika ditanya tentang bank susu, bahwa sebagian ulama berpendapat tidak ada kriteria menyusu harus dengan proses bayi menghisap puting susu. Justru yang menjadi kriteria adalah meminumnya bukan cara meminumnya.

Dalil yang mereka kemukakan juga tidak kalah kuatnya, yaitu hadits yang menyebutkan bahwa kemahraman itu terjadi ketika bayi merasa kenyang.

Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikan saudara laki-laki kalian, karena saudara persusuan itu akibat kenyangnya menyusu. (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu álam bishawab

3 responses

  1. setuju ir, ikut no. 2 .. krn dlm alquran dan hadits, yg menyebabkan itu bukan caranya, tp akibatnya.wallahu’alam.
    trus gimana tuh nasib ibu2 seperjuangan yg cm tau nya yg no.1 aja dalilnya.

  2. Menarik ada dua pendapat yang sama kuat dan tidak ada kesepakatan antara jumhur ulama. Saya pribadi berijtihad untuk mengikuti fatwa Dr Yusuf Qardhawi karena saya selama ini saya lihat fatwa beliau selalu berdasarkan kekinian.

    Saya pikir selama belum ada kesepakatan, masing-masing ijtihad dapat diikuti sesuai kepercayaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s