Perubuhan Menara di Badung, Operator atau Pemdanya yang Badung?

badung2Sudah ada lima menara yang dirubuhkan oleh Pemda Badung. Sayang ya…, berapa rupiah tuh yang terbuang? Kenapa dirubuhkan ? Melihat detikInet, dua alasan perubuhan yang paling populer adalah penataan tata ruang dan pelanggaran izin bangunan.

Kita lihat satu-satu yuuk…

1. Penataan Tata Ruang

Semangat Pemda untuk yang satu ini sangat patut dihargai, Bali sebagai pintu wisatawan indonesia haruslah terjaga keindahannya. Jika saja Bali yang daerah wisata menjadi hutan tower, mungkin para wisatawan mancanegara itu jadi berpikiran yang tidak-tidak dengan wilayah lain. Apa operator keberatan dengan menara bersama? Sepertinya tidak, bukankah dengan menara bersama, biaya operasional menjadi lebih murah?

2. Pelanggaran Izin Bangunan

Semua pihak mempertanyakan hal ini, menara-menara yang dirubuhkan adalah menara lama. Jika tidak memiliki izin, mengapa baru sekarang dipermasalahkan. Semua pun tahu pengurusan IMB di Indonesia cukup rumit, untuk mendapatkan 1 ijin,  pemilik bangunan harus berurusan dengan banyak instansi daerah belum lagi harus dilengkapi dengan  izin warga sekitar. Kalau memang bermasalah, tentu warga-lah yang pertama kali melakukan protes.

Kalo terus-terusan dirubuhkan menaranya, dikhawatirkan  operatornya ngambek, gak mau membangun lagi di Badung dan memboikot layanannya. Kalau sudah begini, pemda juga kan yang akan merugi? Wisatawan yang merasa tidak nyaman dengan layanan telekomunkasinya akhirnya memilih kabur dari Badung. Dan akhirnya PAD Badung menurun.

Jadi…,  siapa donk yang Badung?

Sudahlah tak usah main salah-salahan, operator dan pemda sebaiknya duduk bersama lagi mencari jalan keluar, biar operator untung, pemda untung dan masyarakat untung.

One response

  1. Yang Badung adalah Pemilik Menara BTS di daerah yang memberlakukan Menara Bersama. Soalnya, Pemilik Menara yang selama ini menerima pendapatan penyewaan menaranya dari operator seluler yang tidak punya menara, tidak rela pendapatannya tergerus. Pemilik Menara di daerah tersebut maunya hanya membayar biaya IMB yang ratenya ditentukan daerah, katakan sejumlah x rupiah, sementara dari bisnis penyewaan, pemilik menara memperoleh xy rupiah.

    So, kalau daerah menetapkan menara bersama, selain untuk untuk menata kota dan wilayahnya dari hutan menara, pemilik menara yang sebelumnya ada di daerah tidak dapat apa-apa lagi. Kita kan setuju kalau PAD bertambah untuk membangun daerahnya.

    Polemik tebang menara memang sudah dan sedang terjadi di daerah. Kegerahan pemilik menara yang tidak mau menggunakan menara bersama milik pemda, pasti gerah. Apalagi daerah itu merupakan daerah yang gemuk lalu lintas penggunanya dimana operator seluler akan menyasar daerah itu dan meskipun tidak mempunyai menara, operator seluler cukup sewa tower operator yang ada.

    Operator-operator kecil, aku rasa tidak bermasalah menggunakan menara bersama. Toch dia tetap menyewa. Yang tergerus itu adal;ah pemilik menara dari operator besar seperti XL, Telkom/telkomsel maupun indosat.

    Rgds,
    Fauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s