Monyet-monyet di Jalan Protokol

Bukan.., tulisan ini bukan mengkisahkan manusia-manusia yang bertingkah laku seperti monyet yang bekerja di sekitar jalan protokol Jakarta atau sering melalui jalan-jalan itu.

Memangnya ada yang seperti itu ya?  Kalaupun ada, kita doakan saja semoga mereka segera menemukan kembali naluri kemanusiaannya…🙂

Ini tentang monyet sungguhan,

Akhir-akhir ini,  setiap sore hari di Jalan Sudirman sering terlihat monyet-monyet lucu dengan dandanan ala manusia. Ada yang memakai rambut palsu, ada yang memakai topi, dan ada juga yang memakai daster menyerupai ibu rumah tangga.  Biasanya ada sekitar 5-6  monyet yang standby di pinggiran taman pembatas jalur cepat dan jalur lambat  jalan protokol tersebut. Apakah mereka akan mengikuti sebuah karnaval??

Oh, ternyata tidak. Ada 2 orang lelaki yang mendampingi setiap satu ekor monyet. Mereka adalah pawangnya. Dan si monyet membantu pawangnya mengais rupiah di jalur lambat jalan protokol itu sebagai topeng monyet.

Kesenian tradisional yang biasa dijajakan dari rumah ke rumah, kampung ke kampung dan kompleks ke kompleks  itu adalah favorit kedua balitaku. Hanya dengan mendengar kode panggilan sang pawang dengan dentingan alat musiknya, mereka akan minta keluar rumah untuk menonton sang monyet beraksi. Kepintaran sang monyet menirukan kehidupan manusia seperti naik kendaraan dan pergi ke pasar itu mengalahkan tontonan VCD edukatif yang kubelikan.

Jika pertunjukan itu masih diminati anak-anak di perumahan, mengapa para pawang memilih jalanan protokol yang amat sangat ramai itu? Bisa jadi berkeliling kampung tidak lagi menguntungkan atau sudah terlalu banyak saingan topeng monyet di perumahan. Seperti layaknya seorang pengusaha, mereka mungkin mencari segment pasar yang berbeda. Berharap pendapatan yang lebih dari orang-orang kantoran yang melalui jalan sudirman.

Tak peduli dengan seorang Polisi yang berdiri tak jauh dari mereka. Pasukan topeng monyet itu mencoba menghibur para pengendara mobil dan motor yang terjebak kemacetan di jalur lambat itu. Mencoba mendapatkan simpati meski tidak semua merasa nyaman dengan kehadiran mereka.

Bagi para pawang itu, asalkan rupiah-rupiah yang mereka dapatkan cukup untuk makan keluarga dan monyetnya sudah patut disyukuri.

Bagaimana dengan kita, sudahkah kita mensyukuri pekerjaan kita?

4 responses

  1. wah..

    hebat itu..
    emang, topeng monyet keLiLing udah hampir ga Laku..
    mungkin masih banyak anak2 yang nonton.. tapi yang kasi duit dikit..

    salam ya buat pawang monyet nya kaLo Laen kaLi ketemu..🙂

  2. tapi saya kasihan sama monyet-monyet itu. saya pernah satu angkot ama penjual jasa topeng monyet. Monyetnya dikurung, didandani, trus setiap saya lihat ke kandangnya, dia seperti malu. Duh waktu itu saya sedih banget liat dia. Seharusnya dia tidak begitu. DI satu sisi sang manusia dapat rezeki, di sisi lain hewan nya dizholimi. Padahal seharusnya kan mencari rezeki lewat cara yang benar. Ini yang sering jadi tanda tanya besar dalam hati saya. Baca artikel ini, saya jadi pengen nulis kisah saya bertemu monyet itu hehe. Salam IBSN mba Irma🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s