Dua Dialog tentang Kematian

“Bunda, kalo ada yang meninggal, bilangnya gini, Innalillahi wa inna….” tutur putri kecilku, Nada (4 tahun) di Sabtu Malam kemarin sebelum tidur.

“Innalillahi wa inna ilaihi ro’jiun, Nada dengar darimana? sahutku sambil membetulkan ucapannya.

“Dari masjid, kan banyak orang meninggal loh” jawabnya

“Oh ya ?”

“Iya, kalo Bunda gak di rumah, ada yang meninggal. Kalo Bunda ada di rumah, gak ada yang meninggal?”

“Masa sie? “tanyaku sambil menahan kantuk

“Iya, berarti orang meninggalnya takut ama bunda” jelas Nada

Ada-ada aja nie bocah batinku, “Orang meninggal itu karna udah ajalnya, nyawanya dicabut sama ALLOH” jawabku

“Iya, berarti kalo ada Bunda, gak ada yang dicabut nyawanya” tegas Nada

Aku hanya menanggapi penjelasan Nada itu dengan senyuman dan menganggapnya hanya seperti obrolan biasa pengantar tidur kami. Namun, akhirnya aku tercerahkan setelah mendengar sendiri Berita Duka Cita yang disiarkankan dari Masjid Kampungku berturut-turut di Minggu dan Senin.

Benar kata Nada, hampir setiap hari ada berita duka cita yang diumumkan oleh petugas Masjid. Aku tersentak. Jika hari ini sang petugas Masjid mengumumkan si Bapak A atau si Ibu B yang meninggal, bisa jadi besok atau besoknya lagi Namaku-lah yang akan disiarkan melalui pengeras suara Masjid. Kapan itu? Tak ada yang tahu. Yang jelas, aku tidak pede dengan daftar ibadahku yang ada sampai saat ini jika dalam waktu dekat harus menemui-Nya.

Alhamdulillah,  Nada dan sang petugas Masjid sudah mengingatkanku untuk kembali menambal amal ibadahku yang bolong di sana sini dan terus  menambah bekal persiapan agar pertemuan dengan sang Pencipta nanti menjadi pertemuan yang dinantikan dan bukan untuk ditakuti.

Dan dua hari berikutnya, Nada kembali menasehatiku tentang kematian, dengan setting waktu dan tempat yang sama yaitu sebelum tidur. Malam itu  Nada masih betah menemaniku yang harus tidur lebih larut karena masih mengeloni Adiknya, Syamil yang lagi rewel akibat sakit.

“Bunda, kenapa sie sayang banget sama anaknya? ” tanya Nada

“Anak yang mana?” aku balik nanya, kupikir Ia cemburu dengan adiknya karna sudah beberapa hari ini perhatianku tersedot untuk sang adik

“Yang ini dan ini” jawabnya sambil menunjuk Syamil dan dirinya, sebelum sempat kujawab, Ia menyimpulkan sendiri “Oooh, Bunda takut ya kalau anaknya meninggal..”

Degg…, “iya” jawabku pelan, sungguh aku tidak siap menjawab pertanyaan ini saat itu.

“Iya, nanti aku meninggalnya kalau udah nenek-nenek trus Syamil udah kakek-kakek” sahut Nada seakan paham akan kegelisahanku

Pfffhhhh, serta merta saja kuamini ucapan Nada itu.

Aku tahu nak, kalian adalah titipan ALLOH yang dapat saja diambil kembali oleh Pemiliknya kapan saja.  Dan harusnya akupun mempersiapkannya dan bisa meneladani keikhlasan Ummu Sulaim, Nada kembali mengingatkanku. Terima kasih ya sayang…

5 responses

  1. subhanallah
    pencerahan yang sangat dalam
    banyak orang takut dengan datangnya kematian. tapi kematian itu tak kan bisa kita hindari, kita hanya bisa menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya ke perjalanan selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s