Menghindari Aspartam

Itu yang sedang kulakukan. Sebagai seorang pengemil, diriku harus extra hati-hati dengan berbagai macam camilan, tiap kali jajan kudu baca2 ingredients. Kalo ada aspartame or fenilalanin, tidak akan kubeli. Yang kujumpai, kandungan aspartame terdapat pada camilan jenis kacang sukro/atom, pilus, minuman olahan susu untuk anak, teh kemasan dan lain-lain.

Kebiasaan menghindari Aspartam ini bermula dari Buku Deadly Mist yang ditulis oleh Jerry D.Gray :

Aspartame sangat-sangat berbahaya. Dan inilah alasannya; Salah satu zat yang beracun yang ada di dalamnya adalah alkohol kayu. Jika suhu aspartame melebihim 86 derajat F (30 derajat C) alkohol kayu di dalam aspartame tersebut akan berubah Formaldehyde dan kemudian akan berubah menjadi formic acid (asam formik), yang kemudian menimbulkan metabolik asidosis. Formaldehyde diklasifikasikan ke dalam kelas racun seperti Sianida dan Arsenik yang sangat mematikan. Perbedaannya hanya Formaldehyde membunuh secara perlahan-lahan. dan dalam proses pembunuhan tersebut, dia menimbulkan berbagai macam masalah syaraf.

Oh tidak…, yang tidak kalah menyeramkan efek dari racun aspartam yang disebutkan dalam buku itu :

  • Sakit Perut
  • Asma
  • Kembung, bengkak-bengkak (cairan tertahan)
  • Masalah pengendalian gula darah (mis : hypoglycemia atau hyperglycemia)
  • Kanker Otak (studi terhadap binatang yang tertelah disahkan)
  • Rasa sakit saat buang air seni dan masalah air seni lainnya
  • Sakit dada
  • Kelelahan yang kronis
  • Kebingungan
  • Kematian
  • Depresi
  • Diare
  • Pusing-pusing
  • Rasa haus yang tinggi atau rasa lapar yang tinggi
  • Ingin selalu makan
  • Kehilangan rambut/kebotakan atau penipisan rambut
  • Bintik-bintik merah pada kulit / urticaria
  • Hipertensi (tekanan darah tinggi)
  • Impotensi dan masalah seksual
  • Rentan terhadap infeksi
  • Insomnia
  • Lekas marah
  • Gatal-gatal
  • Kehilangan daya ingat (efek paling umum dari keracunan)
  • Migren dan sakit kepala yang berat (disebabkan karena pemasukan yang kronis/lama/bertahun-tahun)
  • Perubahan kepribadian
  • Sakit saat menstruasi dan masalah dan perubahan menstruasi lainnya
  • Muntah-muntah
  • Mati rasa atau tingling pada kaki dan tangan seperti kram (reaksi keracunan aspartame yang umum)
  • Reaksi alergi lainnya
  • Fobia
  • Detak jantung yang cetak, tachycardia (gejala umum)
  • Serangan pada syaraf otak dan sawan
  • Gagap
  • Bengkak-bengkak
  • Tremor
  • Kenaikan berat badan

Aspartam umumnya ditemukan di segala macam gula diet, dan meski dikategorikan aman oleh FDA dan BPOM, aspartame bisa menimbulkan efek negatif bila dikonsumsi berlebih dalam jangka panjang. Berikut pendapat para ahli di Indonesia yang aku kutip dari kompas.

1. Titi Sekar Indah, ahli gizi Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP) Jakarta : “Dari penelitian, ditemukan dampak negatif pada sejumlah pengguna aspartam. Beberapa efek negatif itu, misalnya, memicu gangguan jaringan otak manusia, menimbulkan sakit kepala, kejang-kejang, mati persendian, mual-mual, kejang otot, hingga akibat paling tragis: kematian.

2. Faisal Anwar, ahli teknologi pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) : “Penggunaan aspartam berpeluang menimbulkan kerusakan ginjal. Pasalnya, aspartam adalah kombinasi dari dua asam amino, asam aspartat dan fenilalanin. Seperti protein pada umumnya, asam-asam amino tersebut harus mengalami metabolisme di dalam tubuh.

Penguraian protein itu merupakan tugas ginjal. “Apabila terlalu banyak dan terlalu sering mengonsumsi aspartam, ginjal akan kecapaian dan bisa mengalami kerusakan, sehingga timbul penyakit ginjal.

Padahal, ginjal berfungsi menyaring semua zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. “Jika ginjal rusak, kinerja tubuh akan berkurang, sehingga tubuh akan semakin mudah terserang penyakit,”

3. Samuel Oentoro, spesialis gizi klinik Medikal Plaza Internasional Klinik : “Penggunaan aspartam bisa merusak otak, hingga akhirnya timbul tumor otak. Bahan-bahan kimia penyusun aspartam bisa merusak sel-sel otak.

Bahan perusak otak tersebut adalah fenilalanin. Zat ini mempunyai peranan sebagai pengantar atau penyampai pesan pada sistem saraf otak. Bila tidak disaring melalui ginjal, fenilalanin pada aspartam bisa berubah menjadi racun yang merusak sistem saraf otak.

Meski begitu, para ahli kesehatan juga sepakat bahwa aspartam tidak berbahaya apabila dikonsumsi dalam takaran yang pas. Dosis yang aman adalah 40 miligram (mg) per kilogram (kg) berat badan. Contohnya, seseorang berbobot tubuh 50 kg hanya boleh menenggak aspartam maksimum 2.000 mg (2 gram) sekali asup.

Namun, takaran tersebut, bisa dibilang cukup minim dan sulit dipatuhi. Maklum, bagi kebanyakan lidah takaran itu kurang membawa rasa manis. “Padahal, bila menjadi kebiasaan dan dikonsumsi terus menerus dalam jangka panjang, dampak negatif tadi bisa muncul. “

Aspartam…, gak lagi deh🙂

5 responses

  1. waduh aspartam parah banget ya,,dibuat untuk dicaci….

    ini sekedar sharing aja….

    kalo masalah formaldehid,,ya itu formalin
    banyak orang indonesia makan formalin dari tahu, ikan asin dan mie basah dengan dosis tinggi dari dulu,tapi saya belum dengar ada laporan kanker yang mewabah……
    trus semua makanan yang diasap pasti mengandung formalin karena formalin terbentuk oleh pembakaran kayu……
    terus kalo penguraian asam amino itu ada di usus, bukan di ginjal, ginjal ga ada di sistem pencernaan…..
    trus tingkat kemanisan aspartam kloa ga salah 2000x, jadi kalo mkan i gr aspartam sama dengan makan i kg gula putih……hah
    bisa jadi biang gula tuh…..
    ya mungkin itu dulu kalee ya

  2. Kalo dari artikel di
    http://www.dkrpapua.com/component/content/article/14-dkr-papua/124-pro-kontra-tentang-aspartam.html

    Oleh : Prof Dr Ir ALI KHOMSAN
    Guru Besar Pangan dan Gizi IPB

    “Untuk meningkatkan faktor keamanan dalam penggunaannya, FDA pun memberikan batas-batas pemakaian yang dianjurkan. Istilah yang dipakai adalah Acceptable Daily Intake (ADI) yang berarti asupan harian yang diperbolehkan. ADI untuk aspartam adalah 40 mg/kg berat badan. Sepanjang industri-industri makanan menerapkan batasan ADI ini, maka tidak perlu ada kekhawatiran terhadap munculnya over dosis.

    Batasan ADI yang 40 mg/kg berat badan ini hampir-hampir tidak mungkin terlampaui dalam pemakaian umum sehari-hari. Pada kenyataannya, jumlah yang kita konsumsi rata-rata hanya sekitar 10% dari ADI. Dengan tingkat kemanisan yang tinggi, maka konsumsi aspartam yang sedikit sudah menimbulkan rasa manis berkali-kali lipat dibandingkan gula biasa. Di Indonesia Badan POM juga menetapkan batasan ADI seperti yang diterapkan FDA yakni 40 mg/kg berat badan”

    jadi sebenarnya kadar sedikit dah manis banget ktanya. jadi jarang berlebih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s